Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Etos Kerja dan Budaya kerja orang Jepang




Minna-san,
Sesudah perang dunia kedua, perusahaan Jepang yang besar membentuk 3 sistem yaitu,
  1. Sistem ketenagakerjaan sepanjang hidup, artinya perusahaan biasanya tidak putus hubungan kerja.
  2. Sistem kenaikan gaji sejajar umur, artinya perusahaan menaikan gaji pekerjanya tergantung pada umur mereka.
  3. Serikat pekerja yang diorganisasi menurut perusahaan, aryinya berbeda dengan pekerja yang diorganisasi menurut jenis kerja, semua pekerja dalam sebuah perusahaan, jenis kerja apapun, diorganisasi oleh satu serikat pekerja.

Karena adanya tidak sistem tadi, para pekerja menganggap kuat keanggotaannya terhadap perusahaan dan lebih setia pada perusahaan. Sehingga etos kerja dan budaya kerjaorang Jepang berkembang. Pada kenyataannya, ketiga sistem itu hanya ada di perusahaan besar, tidak ada di perusahaan kecil. Tapi ketiga sistem itu menjadi teladan bagi perusahaan kecil.

Ciri-ciri etos kerja dan budaya kerja orang Jepang adalah,
  1. Bekerja untuk kesenangan, bukan untuk gaji saja. Tentu saja orang Jepang juga tidak bekerja tanpa gaji atau dengan gaji yang rendah. Tetapi kalau gajinya lumayan, orang Jepang bekerja untuk kesenangan. Jika ditanya "Seandainya anda menjadi milyuner dan tidak usah bekerja, anda berhenti bekerja?", kebanyakan orang Jepang menjawab, "Saya tidak berhenti, terus bekerja." Bagi orang Jepang kerja itu seperti permainan yang bermain bersama dengan kawan yang akrab. Biasanya di Jepang kerja dilakukan oleh satu tim. Dia ingin berhasil dalam permainan ini, dan ingin menaikkan kemampuan diri sendiri. Dan bagi dia kawan-kawan yang saling mempercayai sangat penting. Karena permainan terlalu menarik, dia kadang-kadang lupa pulang ke rumah. Fenomena ini disebut "work holic" oleh orang asing.
  2. Mendewakan pelanggan atau client. Memang melanggar ajaran Islam, etos kerja orang Jepang mendewakan pelanggan sebagai Tuhan. "Okyaku sama ha kamisama desu." (Langganan adalah Tuhan.) Kata itu dikenal semua orang Jepang. Kata ini sudah motto bisnis Jepang. Perusahaan Jepang berusaha mewujudkan permintaan dari langganan sedapat mungkin, dan berusaha berkembangkan hubungan erat dan panjang dengan langganan.
  3. Bisnis adalah perang. Pebisnis Jepang menganggap bisnis sebagai perang yang melawan perusahaan lain. Orang Jepang suka membaca buku ajaran Sun Tzu untuk belajar strategis bisnis. Sun Tzu adalah sebuah buku ilmu militer Tiongkok kuno, pada abad 4 sebelum masehi. Sun Tzu itu suka dibaca oleh baik samurai dulu maupun pebisnis sekarang. Untuk menang perang, perlu strategis dan pandangan jangka panjang. Budaya bisnis Jepang lebih mementingkan keuntungan jangka panjang. Supaya menang perang seharusnya diadakan persiapan lengkap untuk bertempur sekuat tenaga. Semua orang Jepang tahu pribahasa "Hara ga hette ha ikusa ha dekinu." (Kalau lapar tidak bisa bertempur.) Oleh karena itu orang Jepang tidak akan pernah menerima kebiasaan puasa. Bagi orang Jepang, untuk bekerja harus makan dan mempersiapkan kondisi lengkap. Tentu saja di medang perang, kedisiplinan paling penting. Dalam buku Sun Tzu untuk mengajar kedisiplinan dilakukan cara yang sangat kejam. Tetapi sekarang disiplin diajarkan di sekolah dasar. Pendidikan di sekolah sangat penting. Masuk sekolah setiap hari tidak terlambat, ikut pelajaran secara rajin, hal-hal itu dasar disiplin untuk kerja di dunia bisnis. Pada jaman setelah Restorasi Meiji, pendidikan disiplin di sekolah dasar lebih berguna untuk mengembangkan kapitalisme daripada ajaran agama apapun.

Gila ya orang Jepang itu. Sampai workholic segala. Aku, sebagai orang muslim tidak akan meniru motto pebisnis Jepang yang mendewakan pelanggan atau peribahasa Hara ga hette ha ikusa ha dekinu. Sampai-sampai gak menerima kebiasaan puasa. Padahal puasa itu menyehatkan. Aku juga tetep bisa kerja kalau lagi puasa.
Tetep salut sama semangat kerja orang Jepang. Mereka mengajarkan kita bagaimana cara berusaha keras sampai titik darah penghabisan.

Mata Ashita...
Good Luck with your work. Minna-san! GANBATE!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar